Arsip | Cerita Kecil RSS feed for this section

Glodok : Pabrik Gula yang merupakan peninggalan zaman Belanda

10 Mar

pohon

GLODOK begitu disebutnya untuk turun perberhentian angkutan dan agar bisa melanjutkan perjalanan lagi ke desa dimana mbah Kung memimiliki kampung halaman, masih ingat betul jika di ajak Mbah kung jika naik bis malam dan turun di lokasi ini, entah kenapa dinamai GLODOK nama tempat turun ini.

Yang masih teringat sekali saat perjalanan naik bis malam bersama Mbah Kung, Mas Tri dan saya yang tiba di tempat itu masih sangat pagi sekali dan belum terbit matahari, disitu kami bertiga menunggu pagi hari dengan menunggu di sebuah warung sambil menikmati teh manis dan gorengan dan yang ku ingat juga saat itu kami berdua dengan Mas Tri sama-sama mengenakan jaket jins dan Celana Jins yang dibelikan Mbah Kung di Pasar Tanah Abang, mungkin itu sekitaran kelas 5 atau 6 SD saat itu.

pgpur

Disudut jalan itu ternyata adalah sebuah Pabrik Gula yang merupakan peninggalan zaman Belanda yang di depan gerbang terpajang lokomotif tua yang dulunya berfungsi sebagai alat penggerak pengangkutan tebu dari petani.

Berikut mungkin akan bermanfaat referensi penjelasan tentang Pabrik Gula ini.

http://www.ptpn-11.com/pg-poerwodadie.html

SEKILAS TENTANG PG POERWODADIE

Pabrik Gula Poerwodadie yang berlokasi di Desa Palem, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1832 yang saat itu bernama “Nederlands Hendel Maatschapij” (NHM) dan berlokasi di desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Karesidenan Madiun.

Pada tahun 1959 diambil alih Pemerintah Republik Indonesia dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), selanjutnya pada tahun 1967 berubah menjadi PPN Baru yang dipimpin oleh seorang Direktur.

Berdasarkan PP No. 14/tahun 1968 pada tahun 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang membawahi beberapa pabrik gula di satu karesidenan dengan nama “Inspeksi Perusahaan Perkebunan Negara”.  Sejak tahun 1968 itu pula PG Poerwodadie yang terletak satu karesidenan dengan PG Soedhono, PG Redjosarie, PG Pagottan, dan PG Kanigoro bergabung dalam satu badan hukum yaitu Perusahaan Negara Perkebunan XX (PNP XX) yang dipimpin oleh Direksi dan berkantor pusat di Surabaya.

Status PNP berubah menjadi Perseroan Terbatas (Persero) pada tahun 1985 dan PNP XX berubah menjadi PT Perkebunan Nusantara XX  (Persero).  Pada tanggal 11 Maret 1996 PTP XX (Persero) bersama PTP lainnya dibubarkan.  Berdasarkan PP No. 16/1996 tanggal 14 Februari 1996 dibentuk PTP Nusantara XI (Persero) yang merupakan gabungan eks PTP XX (Persero) dengan PTP XXIV-XXV (Persero).  PTP Nusantara XI (Persero) dipimpin oleh Direksi yang berkedudukan di Jalan Merak No. 1 Surabaya hingga saat ini.

Pada tahun 2011, PG Poerwodadie merencanakan menggiling tebu sebanyak 297.229,8 ton (tebu sendiri 84.479,8 ton dan tebu rakyat 212.750,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 3.969,2 ha (TS 1.064,2 ha dan TR 2.905,0 ha). Areal tidak hanya mencakup sejumlah kecamatan di Kabupaten Magetan, namun juga di Kabupaten Bojonegoro. Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 20.783,7 ton  (milik PG 11.361,3 ton dan milik petani 9.422,4 ton) dan tetes 13.375,4 ton. Kapasitas PG 2.300,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.057,2 tth sudah termasuk jam berhenti.

Sadar pentingnya tebu rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan baku, PG Poerwodadie berupaya memberikan yang terbaik untuk petani.  Sejumlah kebun peragaan diselenggarakan dengan maksud dapat menjadi wahana pembelajaran, baik bagi petugas PG maupun petani, tentang praktek budidaya terbaik (best agricultural practices).  Adanya kebun peragaan juga memungkinkan para petani berinteraksi dengan PG terkait upaya peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.  Arah yang ingin dicapai produktivutas rata-rata 8 ton hablur per hektar antara lain direalisasikan melalui penataan masa tanam, penataan varietas (menuju komposisi ideal antara masak awal, tengah, dan akhir 30-40-30 % pada TG  2010/11), kecukupan agroinputs, dan perbaikan manajemen tebang-angkut.

Adanya Litbang Wilayah Barat yang berpusat di PG Poerwodadie, memungkinkan adopsi dan diseminasi teknologi berjalan lebih cepat.  Sedangkan untuk mengatasi kemungkinan pencemaran akibat aktivitas pabrik yang potensial mengganggu masyarakat, PG Poerwodadie terus berupaya memperbaiki instalasi pengolahan limbah secara terpadu, baik untuk limbah padat, cair maupun udara.  Harapan selanjutnya adalah industri ramah lingkungan (environmental friendly).

PROFIL ADMINISTRATUR

Sejak Maret 2011, Administratur PG Poerwodadie dijabat oleh Setyo Narwanto.  Lahir di Ponorogo tahun 1962. Menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi Pertanian di Universitas Brawijaya. Sejumlah pelatihan/kursus yang berkaitan dengan agronomi dan penyuluhan pertanian telah beberapa kali diikutinya dari tahun 1990 sampai saaat ini.

Mengawali karier sebagai Sinder Wilayah PTP XXIV-XXV, dalam perjalanan kariernya, Setyo Narwanto pernah menjabat Kepala Tanaman Rayon, dan Kepala Tanaman II PG Poerwodadie.

Kangen ?

13 Okt

Lagi pas keingetan wajahnya, postur tubuhnya akhirnya mengingatkan saat kecil dulu  saat itu pernah di ajak Bapak pulang kampung ke Karang rejo dengan menggunakan bus malam.  Kami bertiga waktu itu saat liburan sekolah. Yang ku ingat waktu itu setelah lebaran karena waktu itu dengan gayanya kami berdua menggunakan celana jeans dan jaket jeans yang di belikan Bapak di Pasar Tanah Abang. Pagi-pagi sekali kami sudah merapat di nGlodok yang merupakan tempat kami turun dari Bus malam waktu itu, karena masih terlalu pagi jadi masih belum ada Angkutan Desa yang membawa kami ke rumah Pakde atau Bukde di KarangRejo, jadi sambil menunggu fajar kami istirahat di satu warung makanan yang sudah buka saat itu.

Hal lain yang ku ingat saat itu, membawa pulang Kelinci putih bermata merah peliharaan mbokde Saimah. Indah sekali masa kecil saat itu.

Foto Kecil samping rumah

23 Sep

Foto kecil bersama di samping rumah terlihat dari kanan : Mama, Tuti, Saya, MAS TRI, Mbak Sum, Bapak paling belakang, mumgkin waktu itu aku udah kelas 6 SD.

Saat ini Mbak sum sudah tinggal di Kampung Kr.Rejo, disaat kritis Mas Tri setelah kejadian ada di rumahnya mbak sum.

Foto kecil di Kalibata Selatan

23 Sep

Foto kecil waktu masih tinggal di Kalibata Selatan dekat rumahnya Nyak Rohme.

Terlihat dalam gambar kanan ke kiri : Tuti, Mas Tri, Haryati, Saya, Mamak, Mbak Mie.

Foto asli masih B/W, tinggal daerah nga begitu lama sekitar 3 tahunan, karena seingatku saat kelas 3 pindah ke komplek POMAD di belakang TK.Wijayakusumah

Foto kecil di Tangga

23 Sep

Foto kecil, seingatku di ambil di tangga pintu samping masuk ke sekolah TK dekat samping rumah yang di potret sama mas Hendro sore menjelang malam, mungkin waktu itu saya masih sekolah di SD antara kelas 5 atau 6.

Baju Barongsai

7 Sep

RBM3H ~ Rupanya waktu kecil doloe suka narsis juga dengan baju baru yang baru di beliin sama emak di pasar, sorenya di pake terus di foto sama tukang foto keliling. 

Dengan background pohon pisang dengan gaya bertolak pinggang …ha..ha..ha…. 

Hmmmm kapan ya ini…? ya ini kisaran masih kelas 3 SD atau kelas 2 SD ini masih tinggal di Kalibata Selatan di pinggiran Perumahan PERLA dekat tanah kosong/rawa-rawa yang kalau hujan selalu banjir, seperti kebiasaaan anak kecil selalu mandi dan hujan-hujan deh.

Karang Bolong

7 Sep

RBM3H ~ Klo ku ingat-ingat dari foto-foto ini lagi nankring di pohon berdua sama mas Tri sambil megangin nasi bungkus buat makan siang. 

Jadi hari itu kami di ajak sama Mas Hendro pergi tour bersama anak remaja Jalan Seruni di Komplek Perumahan kami tinggal. Lokasi yang kuingat adalah Karang Bolong dan Pantai Carita, peserta tergolong masih anak-anak yang kami berdua saja. 

Kami hanya bermain pasir , membangun benteng terus di sapu ombak. Mau mandi…takut terseret arus. 

Dalam perjalanan yang kuingat waktu itu, Mas Tri termasuk  orang yang nga tahan sama guncangan dalam kendaraan, jadi klo pergi-pergi sama keluarga selalu di taruh di dekat jendela biar kena angin-anginan, klo nga gitu suka muntah-muntah. Jadi waktu itu dia muntah-muntah sebel juga jadinya  duduk sama dia….tapi untung ada mbak sri yang ngurusin , ngasihin kantong  kresek buat nampung muntahannya. 

Gayanya aja tengil , lihat aja foto-fotonya.