Kami antar kau…

30 Agu

Setelah kami berkumpul semua sekitar jam 15.00 ( Bapak,Mamak,Adikku Tuti dan suami,Adikku Haryati dengan anaknya sibungsu Farah,Adikku Fadjar yang sangat dekat dengan Almarhum serta Istriku dan 3 anakku ( Luqman,Fira,Ifan ) yang secara bersama-sama kami mendoakan Almarhum. Kami berusaha untuk tetap tegar menerima kenyataan ini dan berusaha mengikhlaskan kepergian adik/kakak/om/pakde kami ini. 

Istriku sempat jatuh pingsan, setelah beberapa saat sadar langsung beranjak untuk ikut prosesi pemakaman yang di lakukan warga dan seluruh kerabat yang hadir yang dilakukan dalam bahasa jowo yang sedikit banyak tidak kami pahami, Yang jelas intinya untuk mendoakan dan mengikhlaskan kepergiannya.

Kami berbaur untuk mengiringin ke pemakaman yang jaraknya tidak begitu jauh. yaahhh.. terlihat wajah-wajah kami yang dirundung duka. Inilah takdir dari Allah yang tidak bisa di tolak, umur manusia yang tidak bisa di tawar-tawar oleh sang kholik.

Sebagaimana di riwayatkan , Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya yaitu keluarganya hartanya dan amalnya.

Yang dua kembali dan yg satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. {HR.Bukhari dan Muslim}

Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah ibu anak dan kawan yg terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya.

Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yg hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.

Mencium Mayit Karena Haru dan Penghormatan

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata:

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَبَّلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ مَوْتِهِ 

“Sesungguhnya Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu mencium Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah kematiannya.” (HR. Bukhari, 13/363/4098. Ibnu Abi Syaibah, 3/295, dari jalur ‘Aisyah. Al Maktabah Asy Syamilah)

Derajat hadits:

        Shahih, diriwaatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya.

        Syarah Hadits:

Hadits ini dijadikan dalil bolehnya mencium mayit, dianjurkan  setelah tubuhnya ditutup dan ini merupakan perbuatan para sahabat setelah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, dalam hadits ini tidak ada dalil  mengenai berdiri mengelilingi mayit, walau hukum asalnya memang boleh-boleh saja. (Subulus Salam, 3/67)

Bahkan Imam Asy Syaukani mengatakan bahwa kebolehan mencium mayit adalah ijma’  (kesepakatan) para sahabat, sebab mereka tidak ada yang mengingkarinya. Mencium yang dlakukan Abu Bakar ini, dilakukan dalam rangka ta’zhim (penghormatan) dan tabarruk (mencari berkah). (Nailul Authar, 6/118)

Sebenarnya tak ada keterangan, apakah menciumnya itu dilakukan setelah atau sebelum dimandikan. Oleh karena itu, Imam Abu Hasan bin Abdul hadi As Sindi mengatakan, bahwa mencium ini bisa dilakukan sesudah atau sebelum dimandikan, dan ini juga menunjukkan bahwa mayit adalah suci dan tidak najis. (Hasyiah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 3/242)

Ya, jika mayit najis, tentu Rasulullah dan para sahabat tidak akan mencontohkan mencium mayit.

Ada pun, bagian yang dicium adalah dahi/kening/jidat. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

فَوَضَعَ فَاهُ عَلَى جَبِين رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يُقَبِّلهُ وَيَبْكِي

                “Lalu, Abu Bakar meletakkan mulutnya pada kening Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menciumnya dan menangis.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 8/565. Imam Al Haitsami mengatakan bahwa para periwayat hadits ini adalah periwayat hadits shahih, kecuali Ali bin Al Mundzir, tapi dia tsiqah (bisa dipercaya), Majma’uz Zawaid, 9/38)

Kebolehan ini semakin kuat, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah melakukannya terhadap mayit sahabatnya yang juga saudara sesusuannya, Utsman bin Mazh’un Radhiallahu ‘Anhu.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي أَوْ قَالَ عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Utsman bin Mazh’un, ketika Utsman wafat, dan Rasulullah menangis atau mengalir air matanya.” (HR. At Tirmidzi, 4/101/910. Katanya: hadits ini hasan shahih. Dishahihkan Syaikh Al Albani, Mukhtashar Asy Syamailul Muhamamiyah no. 280. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ibnu Majah juga meriwayatkan tentang Utsman bin Mazh’un ini, dengan redaksi berbeda, ‘Aisyah berkata:

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى دُمُوعِهِ تَسِيلُ عَلَى خَدَّيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Utsman bin Mazh’un, ketika Utsman wafat, dan seakan aku melihat air mata Rasulullah mengalir membelah pipinya.” (HR. Ibnu Majah, 4/391/1446. Ahmad, 52/187/24530. Dishahihkan Syaikh Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, 3/456/1456. Al Maktabah Asy Syamilah)

Pembolehan mencium ini, bukan hanya kekhususan para sahabat terhadap Rasulullah, atau Rasulullah terhadap sahabat, melainkan untuk semua mayit umat Islam.  Hadits ini menunjukkan bolehnya mencium seorang muslim setelah kematiannya, dan menangis karenanya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/45)

Bahkan, ada kemungkinan menetesnya air mata Rasulullah ke pipi Utsman. (Hasyiah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 3/242)
Doa I:
Ya Allah ampunilah Dia, berilah rahmat Dia, selamatkanlah dia(jangan disiksa) dan maafkanlah dia. Y Allah bersihkanlah ia dari segala kesalahan sebagaimana engkau membersihkan ia dari segala kesalahan sebagaimana engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran.Ya Allah berilah dia rumah yang baik dari rumahnya ini, keluarga yang baik dari keluarga ini dan jodoh yang baik dari jodohnya ini. Masukkanlah ia dalam syurga dan lindungilah ia dari adzab kubur dan azab neraka”
Doa II:
Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala kami dari ganjarannya mensholatkan dan jangan engkau timpakan fitnah sesudah kematiannya”

~’~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: