Arsip | Agustus, 2010

Kami antar kau…

30 Agu

Setelah kami berkumpul semua sekitar jam 15.00 ( Bapak,Mamak,Adikku Tuti dan suami,Adikku Haryati dengan anaknya sibungsu Farah,Adikku Fadjar yang sangat dekat dengan Almarhum serta Istriku dan 3 anakku ( Luqman,Fira,Ifan ) yang secara bersama-sama kami mendoakan Almarhum. Kami berusaha untuk tetap tegar menerima kenyataan ini dan berusaha mengikhlaskan kepergian adik/kakak/om/pakde kami ini. 

Istriku sempat jatuh pingsan, setelah beberapa saat sadar langsung beranjak untuk ikut prosesi pemakaman yang di lakukan warga dan seluruh kerabat yang hadir yang dilakukan dalam bahasa jowo yang sedikit banyak tidak kami pahami, Yang jelas intinya untuk mendoakan dan mengikhlaskan kepergiannya.

Kami berbaur untuk mengiringin ke pemakaman yang jaraknya tidak begitu jauh. yaahhh.. terlihat wajah-wajah kami yang dirundung duka. Inilah takdir dari Allah yang tidak bisa di tolak, umur manusia yang tidak bisa di tawar-tawar oleh sang kholik.

Sebagaimana di riwayatkan , Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya yaitu keluarganya hartanya dan amalnya.

Yang dua kembali dan yg satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. {HR.Bukhari dan Muslim}

Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah ibu anak dan kawan yg terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya.

Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yg hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.

Mencium Mayit Karena Haru dan Penghormatan

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata:

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَبَّلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ مَوْتِهِ 

“Sesungguhnya Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu mencium Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah kematiannya.” (HR. Bukhari, 13/363/4098. Ibnu Abi Syaibah, 3/295, dari jalur ‘Aisyah. Al Maktabah Asy Syamilah)

Derajat hadits:

        Shahih, diriwaatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya.

        Syarah Hadits:

Hadits ini dijadikan dalil bolehnya mencium mayit, dianjurkan  setelah tubuhnya ditutup dan ini merupakan perbuatan para sahabat setelah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, dalam hadits ini tidak ada dalil  mengenai berdiri mengelilingi mayit, walau hukum asalnya memang boleh-boleh saja. (Subulus Salam, 3/67)

Bahkan Imam Asy Syaukani mengatakan bahwa kebolehan mencium mayit adalah ijma’  (kesepakatan) para sahabat, sebab mereka tidak ada yang mengingkarinya. Mencium yang dlakukan Abu Bakar ini, dilakukan dalam rangka ta’zhim (penghormatan) dan tabarruk (mencari berkah). (Nailul Authar, 6/118)

Sebenarnya tak ada keterangan, apakah menciumnya itu dilakukan setelah atau sebelum dimandikan. Oleh karena itu, Imam Abu Hasan bin Abdul hadi As Sindi mengatakan, bahwa mencium ini bisa dilakukan sesudah atau sebelum dimandikan, dan ini juga menunjukkan bahwa mayit adalah suci dan tidak najis. (Hasyiah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 3/242)

Ya, jika mayit najis, tentu Rasulullah dan para sahabat tidak akan mencontohkan mencium mayit.

Ada pun, bagian yang dicium adalah dahi/kening/jidat. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

فَوَضَعَ فَاهُ عَلَى جَبِين رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يُقَبِّلهُ وَيَبْكِي

                “Lalu, Abu Bakar meletakkan mulutnya pada kening Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menciumnya dan menangis.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 8/565. Imam Al Haitsami mengatakan bahwa para periwayat hadits ini adalah periwayat hadits shahih, kecuali Ali bin Al Mundzir, tapi dia tsiqah (bisa dipercaya), Majma’uz Zawaid, 9/38)

Kebolehan ini semakin kuat, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah melakukannya terhadap mayit sahabatnya yang juga saudara sesusuannya, Utsman bin Mazh’un Radhiallahu ‘Anhu.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي أَوْ قَالَ عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Utsman bin Mazh’un, ketika Utsman wafat, dan Rasulullah menangis atau mengalir air matanya.” (HR. At Tirmidzi, 4/101/910. Katanya: hadits ini hasan shahih. Dishahihkan Syaikh Al Albani, Mukhtashar Asy Syamailul Muhamamiyah no. 280. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ibnu Majah juga meriwayatkan tentang Utsman bin Mazh’un ini, dengan redaksi berbeda, ‘Aisyah berkata:

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى دُمُوعِهِ تَسِيلُ عَلَى خَدَّيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Utsman bin Mazh’un, ketika Utsman wafat, dan seakan aku melihat air mata Rasulullah mengalir membelah pipinya.” (HR. Ibnu Majah, 4/391/1446. Ahmad, 52/187/24530. Dishahihkan Syaikh Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, 3/456/1456. Al Maktabah Asy Syamilah)

Pembolehan mencium ini, bukan hanya kekhususan para sahabat terhadap Rasulullah, atau Rasulullah terhadap sahabat, melainkan untuk semua mayit umat Islam.  Hadits ini menunjukkan bolehnya mencium seorang muslim setelah kematiannya, dan menangis karenanya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/45)

Bahkan, ada kemungkinan menetesnya air mata Rasulullah ke pipi Utsman. (Hasyiah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 3/242)
Doa I:
Ya Allah ampunilah Dia, berilah rahmat Dia, selamatkanlah dia(jangan disiksa) dan maafkanlah dia. Y Allah bersihkanlah ia dari segala kesalahan sebagaimana engkau membersihkan ia dari segala kesalahan sebagaimana engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran.Ya Allah berilah dia rumah yang baik dari rumahnya ini, keluarga yang baik dari keluarga ini dan jodoh yang baik dari jodohnya ini. Masukkanlah ia dalam syurga dan lindungilah ia dari adzab kubur dan azab neraka”
Doa II:
Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala kami dari ganjarannya mensholatkan dan jangan engkau timpakan fitnah sesudah kematiannya”

~’~

Perjalanan yang membutuhkan kesabaran

28 Agu

RBM3H ~ Akhirnya kami berangkat juga jam 15.00 yang sempat tertunda sekitar 2 jam karena beberapa hal, diantaranya menunggu sopir tambahan untuk perjalanan kami. Awalnya Anak-anak dan Istriku tidak ku ajak untuk melihar prosesi penguburan ini tapi kulihat ada masih tempat duduk yang kosong akhirnya ku telepon juga  untuk siap-siap di pintu tol Cikarang sebagai lokasi penjemputan walau sebelumnya aku coba suruh untuk mencari rental mobil karena kupikir mobil yang kutumpangin masih cukup akhirnya batal.  

Hujan deras mengiringin keberangkatan kami dan jalan Tol Cikampek sedikit merayap karena ada perluasan diruas sebelum pintu Cikarang.

Kami berkumpul lagi peristirahatan Karawang Timur untuk Sholat Magrib, hujan terus mengguyur deras ) setelah itu kami berangkat kembali dengan keluar tol Kopo yang sedikit merayap.

Sekitar jam 21.00 kami istrirahat sejenak di sekitaran Sukamandi untuk menambah energi dan stamina kami. 

Sungguh Perjalanan membutuhkan kesabaran buat kami, banyak sekali perbaikan jalan yang di lakukan Pemerintah Daerah untuk persiapan mudik, akibatnya kemacetan dan antrian karena buka tutup jalan untuk bergantian membuat ini penghambat perjalanan kami belum lagi kecelakaan kendaraan truk, belum lagi kendaraan truck yang mogok atau ban bocor yang akhirnya menggagu pengguna jalan lainnya. aaah sungguh-sungguh ujian buat kami untuk mencapai sabar.

Dengan kelincahan Mas Anto memainkan kemudi kami bisa sedikit lolos di depan dari kemacetan itu. Perjalanan mulai terasa lancar setelah melewati ALAS ROBAN sekitar jam 03.00..ooh sungguh-sungguh terlambat perjalanan kami ini, sementara adik kami masih tertinggal jauh di belakang sedang berseteru dengan kemacetan. 

Masuk Wilayah Semarang pun kami sudah cukup terang sekitar jam 06.00 pagi, sementara pihak keluarga di Karangrejo selalu menanyakan posisi kami sudah dimana ?

Terlihat Bapak sudah sedikit stress dalam perjalanan ini, kusarankan sama mamak untuk bantu bimbing mengucapkan Istigfar atau berdoa untuk mengurangi rasa street. Targetku untuk mencapai tujuan jam 09.00 masih tidak tercapai juga yang akhirnya sekitar jam 11.00 kami baru bisa mencapai kampung karang rejo, yang sudah di tunggu khalayak ramai, baik saudara,family dan warga lainnya.

Dengan dukacita yang mendalam kulihat adikku yang terbujur kaki yang sudah di bungkus kain kafan yang siap di kebumikan, antara percaya dan tidak percaya atas semua ini.

Sementara adikku yang lain yang tertinggal jauh di belakang tiba jam 14.00.

Dimana Bapak ..?

25 Agu

RBM3H ~ Hari itu memang sangat menegangkan , sedih , haru, rasa tidak percaya bagi kami sekeluarga, para tetangga dan kerabat sudah mulai berkumpul tapi dimana Bapak ? ya..Bapak belum berada di sekitar kami saat itu, dari mulai saya masih di Cikarang , adik iparku (Oking) juga beberapa tetangga  telah mencari –cari keberadaan Bapak,  yang menurut mereka Bapak sedang sedang pergi mengurus surat-surat pension dan surat-surat kesehatan seseorang. Sampai aku berada di Kalibata pun Bapak juga masih belum pulang, sementara kami terus mengadakan kontak dengan pihak keluarga di Karangrejo. 

Bapak..kumpul diantara Anak dan cucu-cucunya ( Lebaran 2009 )

Syukur Alhamdulillah..akhirnya Bapak tiba juga dirumah dengan sekitar jam 13.00 dengan mencoba menutupi kesedihan, kami mencoba  membawa Bapak untuk duduk menyampaikan berita duka ini, walaupun sempat Bapak bertanya kepada kami, “Ada apa ini kumpul rame-rame ? “ dengan di bantu  tetangga kami dan juga teman sejawat Bapak di dalam lingkungan RW, kami menyampaikan berita duka buat Bapak  atas anaknya yang memang sangat mempunyai perhatian khusus dari Bapak. Terpancar rasa duka dan kesedihan mendalam mendengar musibah ini. 

Aku coba utarakan ke Bapak dimanakah baiknya adik kami di kebumikan ? Bapak menginginkan di Bawa ke Jakarta…dan disinilah sedikit perseturuan terjadi dengan pihak keluarga di Karang Rejo dimana mereka  menginginkan agar di kebumikan di Karang Rejo karena pandangan mereka TRI adikku sudah menjadi bagian kehidupan mereka dan juga warga desa disana disamping ada alasan tetrtentu mengenai administrasi kematian dan kendaraan yang sedikit menyulitkan mereka walaupun kami di Jakarta sudah berusaha untuk menyiapkan kendaraan itu. 

Akhirnya kami putuskan juga untuk pemakaman  di lakukan di Karangrejo dan kamipun berangkat dengan menggunakan 1 mobil Avanza dan 1 mobil untuk menghantar adik kami ke tempat peristirahatan yang abadi. 

“Ya, Allah! Sesungguhnya Tri Harso bin Supangat dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.”

Renungan

25 Agu
RBM3H ~ Apa kamu tahu mengapa kaca depan sebuah mobil begitu besar dan kaca spion begitu kecil? Karena MASA LALU kita tidak sepenting MASA DEPAN kita. Lihatkan ke Depan dan bergerak Maju.
Persahabatan itu seperti sebuah BUKU. Hanya perlu beberapa detik untuk membakarnya, namun perlu bertahun-tahun untuk menulisnya.
Segala hal dalam hidup ini adalah sementara. Bila berjalan dengan lancar, nikmatilah, semua itu tidak akan bertahan selamanya. Bila berjalan tidak benar, jangan kuatir, semua itu tidak bertahan selamanya juga. 
Teman Lama adalah Emas. Teman Baru adalah Berlian. Jika kamu mendapatkan sebuah berlian, jangan lupakan emas. Karena untuk dapat meletakkan sebuah Berlian, kamu selalu memerlukan dudukannya yang terbuat dari Emas.
Seringkali ketika kita kehilangan harapan dan berpikir bahwa inilah akhir dari semuanya, TUHAN tersenyum dari atas sana dan berkata, “Santailah, ini hanyalah sebuah belokan, bukan jalan buntu!”
Ketika TUHAN menyelesaikan masalah-masalahmu, kamu memiliki keyakinan atas kemampuanNYA;
Ketika TUHAN tidak menyelesaikan masalah-masalahmu, DIA memiliki keyakinan atas kemampuanmu.  
Ketika kamu berdoa untuk orang lain, TUHAN mendengarkanmu dan memberkati mereka. Dan, kadangkala, ketika kamu aman dan bahagia, ingatlah bahwa seseorang telah berdoa untukmu.
KEKUATIRAN tidak akan menghilangkan KESULITAN di hari esok, namun menghilangkan KEDAMAIAN hari ini.
(copas dari RDI milist )

Berita itu…!

24 Agu

Tri Harso ( Almarhum )

On June 08 jam 09.30 – 10.30 ~ Tak ada pirasat sebelumnya atau tanda-tanda pagi itu, seperti biasa aku berangkat kerja tapi rasanya ada rasa malas yang sempat aku lontarkan ke Istriku, “kok males banget nih berangkat kerja” walau akhirnya aku start juga motor ke pabrik dimana aku bekerja yang jaraknya hanya sekitar 5 kiloan saja. Di tempat kerjapun seperti biasa, aku layani permintaan-permintaan teman-2 untuk mengambil kiriman barang materialnya yang mereka butuhkan.

Sekitar 2x misscall kuterima dari POMAD yang belum sempat kuangkat HPku, setelah itu barulah kusempatkan terima telpon yang ternyata adikku Har..yang terdengar suaranya gemetar dan menangis menceritakan kalo adikku “TRI” mengalami kecelakaan yang katanya kakinya cedera berat dan keadaan kritis…akupun sedikit panik mendengar berita ini sambi memerintahkan adikku ini untuk telpon ke pihak keluarga di Jawa agar segera membawa ke Rumah sakit terdekat. Karena posisiku sedang di luar ruangan kerja aku bermaksud meminta ijin ke atasan untuk ijin pulang lebih awal mengenai kejadianyang menimpa saudaraku ini.

Ku hubungin adikku Har kembali di Kalibata, kudengar suara dari diujung telepon suara adikku Har, dan adik bungsuku Fadjar serta mamak menanggis sambil terbata-bata mengatakan bahwa Adikku “TRI” telah meninggal dunia…Innalillahi waiinailaihi Rojiun !

“Ya Allah takdirmu sungguh besar,berilah aku kejalan yang lurus di sebuah takdirmu itu,Ya Allah… dan teguhkan lah hatiku ini akan sujud ku kepada MU Ya Allah…” Berikanlah kami kesabaran dan keikhlasan atas kepergian adik kami ini”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri]

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

Kutinggalkan tempat kerja dan kusempatkan telepon isriku di rumah dan menggambarkan hal ini serta untuk mempersiapkan perlengkapanku untuk  menuju ke Kalibata dimana tempat tinggal orangtuaku.

Menulislah…..

23 Agu

Menulis untuk Menyembuhkan
Oleh: Andrias Harefa *

Jika Anda memiliki persoalan hidup yang pelik, menulis boleh jadi solusi yang perlu dicoba. Artinya, menulis dapat dijadikan kegiatan melakukan terapi diri, usaha menyembuhkan dari berbagai luka emosi atau sekadar mengatasi kecemasan yang overdosis.

Ada tips yang bisa dipraktikkan untuk itu. Pertama, temukan waktu dan tempat yang memungkinkan Anda tidak diganggu siapapun. Hal ini penting agar proses terapi tidak diganggu dengan interupsi.

Kedua, menulislah tanpa berhenti sedikitnya selama 20 menit. Biarkan semua yang terasa, terlihat, terdengar dari dalam diri muncul ke permukaan tanpa penilaian.

Ketiga, jangan pusingkan soal ejaan maupun tata bahasa. Anda tidak sedang menulis untuk publikasi tertentu. Anda tidak sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian bahasa Indonesia (atau bahasa lain yang Anda gunakan untuk menulis).

Keempat, menulislah hanya untuk diri sendiri. Ya, untuk diri sendiri. Seperti sedang menguraikan benang usut, menata serpihan-serpihan dari dalam diri sendiri. Bukan untuk diberitahukan kepada orang lain. Bukan untuk bahan pemikiran. Sekadar untuk melampiaskan, mengeluarkan, melepaskan, mengikhlaskan, memasrahkan.

Kelima, tulislah hal yang penting dan bersifat pribadi bagi anda. Jangan menyibukkan diri dengan hal-hal yang sepele, yang trivial, yang remeh temeh. Keluarkan yang benar-benar penting, yang benar-benar pribadi.

Keenam, hadapi kejadian dan peristiwa yang bisa anda atasi untuk saat ini. Untuk masalah-masalah yang mengingatnya saja bisa membuat Anda kehilangan kendali diri, singkirkan dulu. Tulis dan keluarkan apa yang sudah relatif bisa Anda atasi secara emosional.

Anda mau atau sudah pernah mencoba? Atau mungkin ada teman dan kerabat yang perlu kita sarankan untuk menyembuhkan luka-luka emosi dan batinnya dengan cara ini?

*) Andrias Harefa; Mindset Therapist; Penulis 35 Buku Best-Seller; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun.